BEBASINAJA - Seandainya tidak emosi karena cemburu kemudian menghabisi nyawa Harmawati kekasihnya dengan cara mencekik, pertengahan Agustus lalu, Bripda M, (24) saat ini masih terus bersama kawan-kawan seangkatannya merintis karir di korps Bhayangkara khususnya di satuan Sabhara Polda Sulsel, tempatnya bertugas.

Namun kini nasib berkata lain. Pemuda asal Kabupaten Bone ini justru berada di balik jeruji besi Polres Bone, sekira 200 kilometer dari Kota Makassar, karena harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Rabu (21/9), dia mengikuti rekonstruksi di lokasi dia membunuh Harmawati, mahasiswi kebidanan di Makassar, asal Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
AKP Hardjoko, Kepala Satuan Reskrim Polres Bone yang dikonfirmasi malam ini, Rabu, (21/9) menjelaskan, ditemukan fakta dalam rekonstruksi itu, Bripda M dan korban Harmawati dari Makassar menuju Kabupaten Bone dengan mengendarai sepeda motor. Harmawati yang mendesak untuk dibawa ke Bone untuk dipertemukan dengan orangtua Bripda M.
 "Keduanya ke Bone atas permintaan korban yang ingin dipertemukam dengan orangtua pelaku. Mungkin dia ingin memperjelas status hubungannya di depan orangtua pelaku," kata AKP Hardjoko.

Di tengah jalan menuju rumah orangtua Bripda M di Kecamatan Kajuara, korban Harmawati mengeluh sakit perut. Keduanya kemudian berhenti di pinggir jalan sebelum tiba di rumah orangtua Bripda M. Saat duduk di pinggir jalan, ponsel korban berdering namun tidak diangkat. Bripda M kemudian menanyakan siapa gerangan yang menelpon itu, namun tidak dihiraukan sehingga Bripda M berusaha merebut ponsel itu.
Tapi oleh korban Harmawati sigap membuka baterei ponselnya, kemudian membuangnya ke tengah kebun tebu. Bripda M lalu masuk mencari dan menemukan baterei dan ponsel itu. Terjadilah cekcok mulut.
"Yang emosi lebih dulu itu si korban karena tidak suka Bripda M selalu mau tahu urusannya dan langsung memukul Bripda M. Bripa M tidak bisa mengendalikan dirinya, dia pun balik membanting tubuh korban dan mencekiknya hingga tewas di tempat," urai AKP Hardjoko.
Usai menghabisi nyawa kekasihnya, Bripda M menuju Kabupaten Sinjai yang masih bertetangga dengan Kabupaten Bone. Di Sinjai, Bripda M menemui seorang perempuan yang tidak lain adalah calon istrinya. Setelah itu, Bripda M ke rumah orangtuanya, lalu pamit menuju ke Makassar lagi.

Orangtuanya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi baru saja terjadi dengan anaknya. Hingga akhirnya mayat Harmawati ditemukan membusuk di tengah kebun tebu di Dusun Tappareng, Desa Lappa Bosse, Kecamatan Kajuara, Bone, Senin petang, (15/9).
"Dari penyelidikan yang dilakukan, kami tahu siapa yang harus kami curigai hingga kemudian kami berkoordinasi dengan Polda Sulsel yang selanjutnya memanggil Bripda M. Dari pemeriksaan di Polda, Bripda M mengakui perbuatannya. Dan hari Kamis, (18/9) atau tiga hari setelah mayat membusuk Harmawati ditemukan, Bripda M kemudian dijemput dari Mapolda Sulsel dan dibawa ke Bone guna jalani proses hukum," jelas AKP Hardjoko.

Lagi-Lagi Polisi Habisi Kekasihnya

BEBASINAJA - Seandainya tidak emosi karena cemburu kemudian menghabisi nyawa Harmawati kekasihnya dengan cara mencekik, pertengahan Agustus lalu, Bripda M, (24) saat ini masih terus bersama kawan-kawan seangkatannya merintis karir di korps Bhayangkara khususnya di satuan Sabhara Polda Sulsel, tempatnya bertugas.

Namun kini nasib berkata lain. Pemuda asal Kabupaten Bone ini justru berada di balik jeruji besi Polres Bone, sekira 200 kilometer dari Kota Makassar, karena harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Rabu (21/9), dia mengikuti rekonstruksi di lokasi dia membunuh Harmawati, mahasiswi kebidanan di Makassar, asal Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
AKP Hardjoko, Kepala Satuan Reskrim Polres Bone yang dikonfirmasi malam ini, Rabu, (21/9) menjelaskan, ditemukan fakta dalam rekonstruksi itu, Bripda M dan korban Harmawati dari Makassar menuju Kabupaten Bone dengan mengendarai sepeda motor. Harmawati yang mendesak untuk dibawa ke Bone untuk dipertemukan dengan orangtua Bripda M.
 "Keduanya ke Bone atas permintaan korban yang ingin dipertemukam dengan orangtua pelaku. Mungkin dia ingin memperjelas status hubungannya di depan orangtua pelaku," kata AKP Hardjoko.

Di tengah jalan menuju rumah orangtua Bripda M di Kecamatan Kajuara, korban Harmawati mengeluh sakit perut. Keduanya kemudian berhenti di pinggir jalan sebelum tiba di rumah orangtua Bripda M. Saat duduk di pinggir jalan, ponsel korban berdering namun tidak diangkat. Bripda M kemudian menanyakan siapa gerangan yang menelpon itu, namun tidak dihiraukan sehingga Bripda M berusaha merebut ponsel itu.
Tapi oleh korban Harmawati sigap membuka baterei ponselnya, kemudian membuangnya ke tengah kebun tebu. Bripda M lalu masuk mencari dan menemukan baterei dan ponsel itu. Terjadilah cekcok mulut.
"Yang emosi lebih dulu itu si korban karena tidak suka Bripda M selalu mau tahu urusannya dan langsung memukul Bripda M. Bripa M tidak bisa mengendalikan dirinya, dia pun balik membanting tubuh korban dan mencekiknya hingga tewas di tempat," urai AKP Hardjoko.
Usai menghabisi nyawa kekasihnya, Bripda M menuju Kabupaten Sinjai yang masih bertetangga dengan Kabupaten Bone. Di Sinjai, Bripda M menemui seorang perempuan yang tidak lain adalah calon istrinya. Setelah itu, Bripda M ke rumah orangtuanya, lalu pamit menuju ke Makassar lagi.

Orangtuanya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi baru saja terjadi dengan anaknya. Hingga akhirnya mayat Harmawati ditemukan membusuk di tengah kebun tebu di Dusun Tappareng, Desa Lappa Bosse, Kecamatan Kajuara, Bone, Senin petang, (15/9).
"Dari penyelidikan yang dilakukan, kami tahu siapa yang harus kami curigai hingga kemudian kami berkoordinasi dengan Polda Sulsel yang selanjutnya memanggil Bripda M. Dari pemeriksaan di Polda, Bripda M mengakui perbuatannya. Dan hari Kamis, (18/9) atau tiga hari setelah mayat membusuk Harmawati ditemukan, Bripda M kemudian dijemput dari Mapolda Sulsel dan dibawa ke Bone guna jalani proses hukum," jelas AKP Hardjoko.