Bebasinaja.com Berita Terkini dan Terakurat Sungguh Tragis, Kisah Kehidupan Seorang Ibu Bersama Tiga Anaknya Tinggal di Trotoar Jalanan yang Pergi Mencari Nafkah - Bebasinaja.com Berita Terkini dan Terakurat

MEDAN - Seorang perempuan yang membawa tiga orang anak masih usia sekolah kembali lagi di temukan di Jalan Dr Mansyur, namun perempuan ini bukan janda yang menjadi viral dan mengaku kerap dipukuli oleh suaminya.
Baca: Kerap Dipukuli Suami, Janda dan 3 Anaknya Ini Keluyuran Tengah Malam Jual Baju Bekas
Bersama tiga anaknya, perempuan yang enggan menyebutkan namanya sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci dan tugas bersih-bersih di kediaman seseorang yang berada di Jalan Gatot Subroto.
Mereka tidak memiliki tempat tinggal, dan hanya memanfaatkan trotoar jalan sebagai rumah darurat.
Hanya memiliki beberapa sepanduk dan terpal bekas untuk dimanfaatkan sebagai atap dan alas tempat mereka tinggal.
Perempuan itu mengaku berasal dari Pekanbaru dan telah berada di Medan sejak setahun lalu.
"Aku dari Pekanbaru, pak. Kami sudah setahun lalu di Medan," ujar ibu tiga anak itu yang pasrah menerima kondisi kehidupannya, Kamis (8/9/2016).
Sambil membangunkan ketiga anaknya yang pada saat itu masih tertidur pulas, perempuan tersebut mengaku telah seminggu lebih bertempat tinggal di trotoar jalan.
Sebelumnya, ia pernah menumpang tinggal di beberapa tempat ibadah dan pelataran toko. Karena mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, akhirnya perempuan tersebut memilih tinggal di trotoar jalan.
"Sudah dua minggu kalau di sini (trotoar), mau bagaimana lagi, pak? Kami pun tidak mau begini. Kami pernah numpang tempat lain, tapi selalu dimarahi. Bahkan kami dilempari batu," ujarnya.
Perempuan itu mengaku pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan semenjak kondisi hidupnya diekspos oleh beberapa media di Medan.
"Jangan lah, pak. Tolong lah, jangan dimasukan ke koran lagi. Kemarin kami diusir dan dilempari karena ada yang membaca saya di koran. Katanya saya penipu, coba bapak lihat ini (sisi mata kanan), ini lebam karena dipukul, pak," ujarnya.
Beban hidup yang ditanggung perempuan tersebut semakin berat karena suaminya telah mengalami gangguan jiwa. Bahkan, saat ini perempuan tersebut tidak mengetahui keberadaan suaminya.
"Suami sudah gila pak. Tidak tahan dia melihat kami seperti ini," ujarnya.

Ia mengaku pernah berinisiatif mendatangi beberapa panti sosial di Medan. Namun, pihak panti memaksanya untuk pergi. Ada juga panti yang menolak untuk menampungnya.
"Bukan kami dipaksa Satpol PP atau polisi, kami kok yang datang sendiri ke panti-panti. Tapi tidak ada perlakuan baik untuk kami. Sudah capek kami kalau itu, pak. Bukan bapak saja yang menyarankan itu," ujarnya.
"Kami bukan pengemis, pak. Saya kerja kok. Kalau kami ditangkap Satpol PP silahkan saja, asal setelah itu kami diberi tempat tinggal dan anak-anak ini bisa sekolah," imbuhnya.
Perempuan tersebut terdiam untuk sesaat ketika ditanya ingin sampai kapan tinggal di trotoar tersebut. Sambil menundukkan kepala, perempuan tersebut mengatakan masih menunggu adanya tempat yang lebih layak.
"Belum tahu, pak," ujarnya.
Seorang pengendara yang saat itu memberhentikan sepeda motornya, Amran, mengaku sudah melihat perempuan tersebut tinggal di trotoar jalan sejak seminggu lalu bersama anak-anaknya.
Warga Jalan Setia Budi ini awalnya merasa curiga dengan kondisi perempuan tersebut. Namun, Amran akhirnya merasakan simpati dan mengaku pernah beberapa kali mencoba berkomunikasi dengan mereka.
"Saya tawari nasi, tapi kata mereka takut dimarah ibunya," ujar Amran.

Sungguh Tragis, Kisah Kehidupan Seorang Ibu Bersama Tiga Anaknya Tinggal di Trotoar Jalanan yang Pergi Mencari Nafkah


MEDAN - Seorang perempuan yang membawa tiga orang anak masih usia sekolah kembali lagi di temukan di Jalan Dr Mansyur, namun perempuan ini bukan janda yang menjadi viral dan mengaku kerap dipukuli oleh suaminya.
Baca: Kerap Dipukuli Suami, Janda dan 3 Anaknya Ini Keluyuran Tengah Malam Jual Baju Bekas
Bersama tiga anaknya, perempuan yang enggan menyebutkan namanya sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci dan tugas bersih-bersih di kediaman seseorang yang berada di Jalan Gatot Subroto.
Mereka tidak memiliki tempat tinggal, dan hanya memanfaatkan trotoar jalan sebagai rumah darurat.
Hanya memiliki beberapa sepanduk dan terpal bekas untuk dimanfaatkan sebagai atap dan alas tempat mereka tinggal.
Perempuan itu mengaku berasal dari Pekanbaru dan telah berada di Medan sejak setahun lalu.
"Aku dari Pekanbaru, pak. Kami sudah setahun lalu di Medan," ujar ibu tiga anak itu yang pasrah menerima kondisi kehidupannya, Kamis (8/9/2016).
Sambil membangunkan ketiga anaknya yang pada saat itu masih tertidur pulas, perempuan tersebut mengaku telah seminggu lebih bertempat tinggal di trotoar jalan.
Sebelumnya, ia pernah menumpang tinggal di beberapa tempat ibadah dan pelataran toko. Karena mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, akhirnya perempuan tersebut memilih tinggal di trotoar jalan.
"Sudah dua minggu kalau di sini (trotoar), mau bagaimana lagi, pak? Kami pun tidak mau begini. Kami pernah numpang tempat lain, tapi selalu dimarahi. Bahkan kami dilempari batu," ujarnya.
Perempuan itu mengaku pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan semenjak kondisi hidupnya diekspos oleh beberapa media di Medan.
"Jangan lah, pak. Tolong lah, jangan dimasukan ke koran lagi. Kemarin kami diusir dan dilempari karena ada yang membaca saya di koran. Katanya saya penipu, coba bapak lihat ini (sisi mata kanan), ini lebam karena dipukul, pak," ujarnya.
Beban hidup yang ditanggung perempuan tersebut semakin berat karena suaminya telah mengalami gangguan jiwa. Bahkan, saat ini perempuan tersebut tidak mengetahui keberadaan suaminya.
"Suami sudah gila pak. Tidak tahan dia melihat kami seperti ini," ujarnya.

Ia mengaku pernah berinisiatif mendatangi beberapa panti sosial di Medan. Namun, pihak panti memaksanya untuk pergi. Ada juga panti yang menolak untuk menampungnya.
"Bukan kami dipaksa Satpol PP atau polisi, kami kok yang datang sendiri ke panti-panti. Tapi tidak ada perlakuan baik untuk kami. Sudah capek kami kalau itu, pak. Bukan bapak saja yang menyarankan itu," ujarnya.
"Kami bukan pengemis, pak. Saya kerja kok. Kalau kami ditangkap Satpol PP silahkan saja, asal setelah itu kami diberi tempat tinggal dan anak-anak ini bisa sekolah," imbuhnya.
Perempuan tersebut terdiam untuk sesaat ketika ditanya ingin sampai kapan tinggal di trotoar tersebut. Sambil menundukkan kepala, perempuan tersebut mengatakan masih menunggu adanya tempat yang lebih layak.
"Belum tahu, pak," ujarnya.
Seorang pengendara yang saat itu memberhentikan sepeda motornya, Amran, mengaku sudah melihat perempuan tersebut tinggal di trotoar jalan sejak seminggu lalu bersama anak-anaknya.
Warga Jalan Setia Budi ini awalnya merasa curiga dengan kondisi perempuan tersebut. Namun, Amran akhirnya merasakan simpati dan mengaku pernah beberapa kali mencoba berkomunikasi dengan mereka.
"Saya tawari nasi, tapi kata mereka takut dimarah ibunya," ujar Amran.