Bebasinaja.com Berita Terkini dan Terakurat Selama 18 Tahun Sang Kakak Merawat dan Membesarkannya, Setelah kaya Baca Selanjut nya - Bebasinaja.com Berita Terkini dan Terakurat

Bebasinaja.com -  Sebuah desa di barat daya Tiongkok, hanya memiliki lebih dari dua puluh kepal keluarga, dan sebagian besar tidak kaya, tapi yang paling susah hidupnya di sini adalah kakak beradik Li Ming Qiang dan Li Ming Chui.


Orangtua kedua kakak beradik ini telah meninggal sejak mereka masih kecil. Ming Qiang yang tidak pernah melihat wajah ayahnya dirawat dan dibesarkan oleh kakaknya, Ming Chui.

Mereka hidup serba kekurangan, meski begitu, sang kakak Ming Chui sangat menyayangi adiknya, ia selalu memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk Ming Qiang.

Ming Chui bekerja di luar daerah bersama dengan penduduk sedesanya.

Ia sengaja memilih pekerjaan berat yang seharusnya dikerjakan kaum pria dengan upah yang lebih tinggi untuk mengumpulkan uang yang banyak membiayai sekolah adiknya.

Dia berharap, kelak di masa depan sang adik bisa mendapakan kehidupan yang lebih baik.

Selama 18 tahun, dengan susah payah sang kakak merawat dan membesarkan adiknya. Tapi , setelah lulus SMA, Ming Qiang langsung mencari pekerjaan tanpa sepengetahuan kakaknya.

Tentu saja Ming Chui sangat marah ketika mengetahui hal itu, ia menyuruh Ming Qiang melanjutkan kuliah, tapi Ming Qiang sangat keras kepala, bahkan ia melawan kakaknya.

“Untuk apa kakak menyuruhku kuliah, supaya diejek teman-temanku, kakak memang mampu membiayai kuliahku, tapi aku tak berani jalan-jalan bersama teman-temanku, karena aku tak punya uang.

“Kakak sama sekali tidak mengerti perasaanku. Sudahlah kak, gak usah banyak bicara lagi, aku tidak akan kuliah,” kata sang Ming Qiang, kemudian telepon terputus dan Ming Chui termenung sambil menatap teleponnya.

Dia, dia tidak pernah tahu adiknya berpikiran seperti itu.

Lima tahun kemudian, Ming Qiang pulang ke desa, dan ini adalah pertama kalinya sejak dia meninggalkan desanya, tapi kali ini dia kembali dengan mengendarai mobil mewah berikut pengawalnya.

Ming Qiang yang baru bekerja di luar daerah selama lima tahun mustahil bisa mendapatkan hasil seperti itu meski bekerja sekeras apa pun.


Ternyata dia telah menyelamatkan seorang bos yang tidak memiliki anak, lalu si bos itu mengangkatnya sebagai anak angkatnya.

Setahun yang lalu, ayah angkatnya meninggal karena sakit, dan pabrik yang ditinggalkan pun diwariskan pada Ming Qiang, sehingga dalam sekejab Ming Qiang berubah menjadi orang kaya.

Dan kali ini, Ming Qiang memang tampil beda sepulangnya ke desa, ia menyuruh pengawal pribadinya mengantar kado ke setiap tetangga desa, terutama teman-teman sekolahnya dulu.

Dia hanya ingin memberi tahu kepada semua orang bahwa dia bukan lagi anak yang miskin seperti dulu.

Kepala desa berkata pada Ming Qiang : “Kamu sekarang hebat ya, kamu sepatutnya berterima kasih pada Ming Chui, kakakmu itu … …”

“Kepala desa,” Ming Chui langsung memotong pembicaran kepala desa sebelum selesai bicara.

Namun Ming Qiang menimpali kata-kata kepala desa : “Apa tidak salah, semua ini berkat jasa kakakku? Huh, selain membuat saya diejek teman-teman, dia tidak bisa berbuat apa pun.”

“Kamu…kamu…,” kepala desa tidak melanjutkan lagi kata-katanya setelah sejenak memandang Ming Chui. 

Setelah bangunan itu selesai, Ming Qiang kemudian berkata pada kakaknya : “Rumah reyot yang ayah-ibu tinggalkan itu untukmu saja, dan 100 juta rupiah ini aku kembalikan.”

Kemudian Ming Qiang pun pergi seusai berkata pada kakaknya.

Ming Chui termenung sambil memegang segepok uang dari Ming Qiang adiknya.

Belakangan, hubungan Ming Chui dan Ming Qiang seperti orang asing.


Ming Qiang cuek sama Ming Chui, demikian juga dengan Ming Chui yang tidak berani menemui adiknya.

Orang-orang desa mengetahui hal itu, tapi mereka juga tidak berani mengatakan apa pun, karena Ming Qiang sekarang adalah bos besar.

Ming Qiang, pulang ke desanya hanya sesekali. Pada suatu hari dia kembali lagi ke desanya, ia membawa seorang istri untuk menikah di desa.

Meski upacara pernikahan sudah digelar sebelumnya di kota, tapi dia masih ingin menggelar sekali lagi upacara pernikahannya di desa.

Tak lama setelah itu, Ming Qiang membangun sebuah rumah baru yang sangat besar dan megah, tentu saja hal itu membuat banyak penduduk desa kagum.

Namun, satu-satunya orang yang tidak diberitahu dalam upacara pernikahannya kali ini adalah Ming Chui kakaknya.

Pada hari pernikahan, kepala desa melihat-lihat sekeliling, tapi tidak melihat Ming Chui.

Kepala desa lalu bertanya pada Ming Qiang: “Mana kakakmu Ming Chui, kenapa dia tidak datang?”

“Saya tidak memberi tahu dia,” kata Ming Qiang.


“Dia itu kakakmu,” ujar kepala desa mengerutkan kening.

“Apa ? Kamu punya kakak perempuan?” Timpal istri Ming Qiang mulai berbicara

“Ah Qiang, kamu bilang anak yatim, tidak punya saudara lagi, tapi kenapa sekarang tiba-tiba dia bicara tentang kakak, apa yang terjadi sebenarnya ?” Tanya istrinya.

“Tidak ada apa-apa, saya tidak punya kakak,” jawab Ming Qiang

“Kamu, kamu…kamu benar-benar tak punya hati. Hari ini aku akan mewakili kakakmu mengingatkanmu,” kata kepala desa mulai emosi sambil mengangkat tongkat hendak memukul Ming Qiang.


Tepat pada saat itu, Ming Chui berlari masuk ke dalam dan berkata : “Kepala desa, jangan.”

“Aduh Ming Chui, kamu lihat saja sendiri sekarang, kamu telah membesarkan seekor serigala yang tidak tahu membalas budi.

“ Dulu aku sudah bilang jangan memelihara anak ini, sekarang kamu sendiri yang menelan pil pahitnya kan.

“Tidak, aku tidak bisa menahan diriku, aku harus menceritakan hal itu pada srigala yang tak tahu diuntung ini.”

Ming Chui ingin menahannya, tapi kepala desa sudah terlanjur bercerita…..

Kepala desa berkata pada Ming Qiang : “Memang benar katamu, kamu adalah seorang anak yatim piatu, dan Ming Chui, dia juga bukan kakak kandungmu. 

“Ketika itu, orang-orang desa menemukan kamu yang hanya dibungkus dengan sepotong kain di gerbang desa.

“Melihat seorang bayi diletakkan begitu saja, kami tahu lagi-lagi seorang bayi yang dicampakkan orangtuanya.

“Tapi di desa ini tidak ada orang kaya, jadi tidak ada yang berani merawatmu. Namun, Ming Chui yang anak yatim piatu dan baru berusia 12 tahun saat itu menggendongmu, kemudian Ming Chui membawamu pulang, dan atas permintaannya aku yang memberi nama padamu.

“Saat itu, aku sudah bilang kepadanya bahwa tidak mudah merawat seorang bayi, apalagi dia sendiri juga susah hidupnya, tapi dia bersikeras untuk merawat dan membesarkanmu.

“Dia bilang kamu anak yatim piatu, dia juga anak yatim piatu, dan bukan anak yatim piatu lagi kalau sudah berdua.

“Sejak itu, dia pun merawat dan membesarkanmu dengan susah payah hingga sekarang kamu sudah berubah seperti ini.

“Kamu pikir gampang ya mencari pekerjaan sekarang, apalagi kamu tidak punya pengalaman kerja sedikit pun. 




“Asal tahu saja, semua itu karena permohonan Ming Chui, bahkan dia yang memberi uang padamu melalui tangan orang lain sebagai gajimu. Sekarang kamu telah menjadi sesosok srigala yang tak punya hati nurani!”

“Kamu..kamu, pantaskah disebut manusia!?” Kata kepala desa gregetan sambil menatap Ming Qiang.

Sementara itu, Ming Chui yang berdiri di samping dari tadi sudah meneteskan air mata dan menangis, dan kesedihan di hatinya yang terpendam pun seketika tertumpah keluar semuanya setelah mendengar cerita kepala desa !

Sedangkan Ming Qiang pun termangu seketika di tempat, ternyata….ternyata … …(jhn/yant)

Sumber: goodtimes.my

Selama 18 Tahun Sang Kakak Merawat dan Membesarkannya, Setelah kaya Baca Selanjut nya


Bebasinaja.com -  Sebuah desa di barat daya Tiongkok, hanya memiliki lebih dari dua puluh kepal keluarga, dan sebagian besar tidak kaya, tapi yang paling susah hidupnya di sini adalah kakak beradik Li Ming Qiang dan Li Ming Chui.


Orangtua kedua kakak beradik ini telah meninggal sejak mereka masih kecil. Ming Qiang yang tidak pernah melihat wajah ayahnya dirawat dan dibesarkan oleh kakaknya, Ming Chui.

Mereka hidup serba kekurangan, meski begitu, sang kakak Ming Chui sangat menyayangi adiknya, ia selalu memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk Ming Qiang.

Ming Chui bekerja di luar daerah bersama dengan penduduk sedesanya.

Ia sengaja memilih pekerjaan berat yang seharusnya dikerjakan kaum pria dengan upah yang lebih tinggi untuk mengumpulkan uang yang banyak membiayai sekolah adiknya.

Dia berharap, kelak di masa depan sang adik bisa mendapakan kehidupan yang lebih baik.

Selama 18 tahun, dengan susah payah sang kakak merawat dan membesarkan adiknya. Tapi , setelah lulus SMA, Ming Qiang langsung mencari pekerjaan tanpa sepengetahuan kakaknya.

Tentu saja Ming Chui sangat marah ketika mengetahui hal itu, ia menyuruh Ming Qiang melanjutkan kuliah, tapi Ming Qiang sangat keras kepala, bahkan ia melawan kakaknya.

“Untuk apa kakak menyuruhku kuliah, supaya diejek teman-temanku, kakak memang mampu membiayai kuliahku, tapi aku tak berani jalan-jalan bersama teman-temanku, karena aku tak punya uang.

“Kakak sama sekali tidak mengerti perasaanku. Sudahlah kak, gak usah banyak bicara lagi, aku tidak akan kuliah,” kata sang Ming Qiang, kemudian telepon terputus dan Ming Chui termenung sambil menatap teleponnya.

Dia, dia tidak pernah tahu adiknya berpikiran seperti itu.

Lima tahun kemudian, Ming Qiang pulang ke desa, dan ini adalah pertama kalinya sejak dia meninggalkan desanya, tapi kali ini dia kembali dengan mengendarai mobil mewah berikut pengawalnya.

Ming Qiang yang baru bekerja di luar daerah selama lima tahun mustahil bisa mendapatkan hasil seperti itu meski bekerja sekeras apa pun.


Ternyata dia telah menyelamatkan seorang bos yang tidak memiliki anak, lalu si bos itu mengangkatnya sebagai anak angkatnya.

Setahun yang lalu, ayah angkatnya meninggal karena sakit, dan pabrik yang ditinggalkan pun diwariskan pada Ming Qiang, sehingga dalam sekejab Ming Qiang berubah menjadi orang kaya.

Dan kali ini, Ming Qiang memang tampil beda sepulangnya ke desa, ia menyuruh pengawal pribadinya mengantar kado ke setiap tetangga desa, terutama teman-teman sekolahnya dulu.

Dia hanya ingin memberi tahu kepada semua orang bahwa dia bukan lagi anak yang miskin seperti dulu.

Kepala desa berkata pada Ming Qiang : “Kamu sekarang hebat ya, kamu sepatutnya berterima kasih pada Ming Chui, kakakmu itu … …”

“Kepala desa,” Ming Chui langsung memotong pembicaran kepala desa sebelum selesai bicara.

Namun Ming Qiang menimpali kata-kata kepala desa : “Apa tidak salah, semua ini berkat jasa kakakku? Huh, selain membuat saya diejek teman-teman, dia tidak bisa berbuat apa pun.”

“Kamu…kamu…,” kepala desa tidak melanjutkan lagi kata-katanya setelah sejenak memandang Ming Chui. 

Setelah bangunan itu selesai, Ming Qiang kemudian berkata pada kakaknya : “Rumah reyot yang ayah-ibu tinggalkan itu untukmu saja, dan 100 juta rupiah ini aku kembalikan.”

Kemudian Ming Qiang pun pergi seusai berkata pada kakaknya.

Ming Chui termenung sambil memegang segepok uang dari Ming Qiang adiknya.

Belakangan, hubungan Ming Chui dan Ming Qiang seperti orang asing.


Ming Qiang cuek sama Ming Chui, demikian juga dengan Ming Chui yang tidak berani menemui adiknya.

Orang-orang desa mengetahui hal itu, tapi mereka juga tidak berani mengatakan apa pun, karena Ming Qiang sekarang adalah bos besar.

Ming Qiang, pulang ke desanya hanya sesekali. Pada suatu hari dia kembali lagi ke desanya, ia membawa seorang istri untuk menikah di desa.

Meski upacara pernikahan sudah digelar sebelumnya di kota, tapi dia masih ingin menggelar sekali lagi upacara pernikahannya di desa.

Tak lama setelah itu, Ming Qiang membangun sebuah rumah baru yang sangat besar dan megah, tentu saja hal itu membuat banyak penduduk desa kagum.

Namun, satu-satunya orang yang tidak diberitahu dalam upacara pernikahannya kali ini adalah Ming Chui kakaknya.

Pada hari pernikahan, kepala desa melihat-lihat sekeliling, tapi tidak melihat Ming Chui.

Kepala desa lalu bertanya pada Ming Qiang: “Mana kakakmu Ming Chui, kenapa dia tidak datang?”

“Saya tidak memberi tahu dia,” kata Ming Qiang.


“Dia itu kakakmu,” ujar kepala desa mengerutkan kening.

“Apa ? Kamu punya kakak perempuan?” Timpal istri Ming Qiang mulai berbicara

“Ah Qiang, kamu bilang anak yatim, tidak punya saudara lagi, tapi kenapa sekarang tiba-tiba dia bicara tentang kakak, apa yang terjadi sebenarnya ?” Tanya istrinya.

“Tidak ada apa-apa, saya tidak punya kakak,” jawab Ming Qiang

“Kamu, kamu…kamu benar-benar tak punya hati. Hari ini aku akan mewakili kakakmu mengingatkanmu,” kata kepala desa mulai emosi sambil mengangkat tongkat hendak memukul Ming Qiang.


Tepat pada saat itu, Ming Chui berlari masuk ke dalam dan berkata : “Kepala desa, jangan.”

“Aduh Ming Chui, kamu lihat saja sendiri sekarang, kamu telah membesarkan seekor serigala yang tidak tahu membalas budi.

“ Dulu aku sudah bilang jangan memelihara anak ini, sekarang kamu sendiri yang menelan pil pahitnya kan.

“Tidak, aku tidak bisa menahan diriku, aku harus menceritakan hal itu pada srigala yang tak tahu diuntung ini.”

Ming Chui ingin menahannya, tapi kepala desa sudah terlanjur bercerita…..

Kepala desa berkata pada Ming Qiang : “Memang benar katamu, kamu adalah seorang anak yatim piatu, dan Ming Chui, dia juga bukan kakak kandungmu. 

“Ketika itu, orang-orang desa menemukan kamu yang hanya dibungkus dengan sepotong kain di gerbang desa.

“Melihat seorang bayi diletakkan begitu saja, kami tahu lagi-lagi seorang bayi yang dicampakkan orangtuanya.

“Tapi di desa ini tidak ada orang kaya, jadi tidak ada yang berani merawatmu. Namun, Ming Chui yang anak yatim piatu dan baru berusia 12 tahun saat itu menggendongmu, kemudian Ming Chui membawamu pulang, dan atas permintaannya aku yang memberi nama padamu.

“Saat itu, aku sudah bilang kepadanya bahwa tidak mudah merawat seorang bayi, apalagi dia sendiri juga susah hidupnya, tapi dia bersikeras untuk merawat dan membesarkanmu.

“Dia bilang kamu anak yatim piatu, dia juga anak yatim piatu, dan bukan anak yatim piatu lagi kalau sudah berdua.

“Sejak itu, dia pun merawat dan membesarkanmu dengan susah payah hingga sekarang kamu sudah berubah seperti ini.

“Kamu pikir gampang ya mencari pekerjaan sekarang, apalagi kamu tidak punya pengalaman kerja sedikit pun. 




“Asal tahu saja, semua itu karena permohonan Ming Chui, bahkan dia yang memberi uang padamu melalui tangan orang lain sebagai gajimu. Sekarang kamu telah menjadi sesosok srigala yang tak punya hati nurani!”

“Kamu..kamu, pantaskah disebut manusia!?” Kata kepala desa gregetan sambil menatap Ming Qiang.

Sementara itu, Ming Chui yang berdiri di samping dari tadi sudah meneteskan air mata dan menangis, dan kesedihan di hatinya yang terpendam pun seketika tertumpah keluar semuanya setelah mendengar cerita kepala desa !

Sedangkan Ming Qiang pun termangu seketika di tempat, ternyata….ternyata … …(jhn/yant)

Sumber: goodtimes.my

No comments: